Ponsel Lokal dan TKDN Sang Penyelamat Devisa

Besarnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika membuat banyak pihak cemas. Sampai hari ini, tanggal 22 Agustus 2018 nilai tukar 1 dollar mencapai Rp 14.580,45. Di satu sisi pemerintah kerepotan karena harus menguras cadangan devisa untuk pasar guna menguatkan rupiah kembali.

Di sisi lain kenaikan nilai tukar membuat eksportir untung dengan pundi-pundi rupiah mereka makin menggembung. Apalagi gadget dari luar sekarang makin menjamur dan makin mudah didapat baik offline dan online.

Berdasarkan Kominfo, pada 2013 industri ponsel dalam negeri hanya memproduksi 103.000 unit dengan dua merek, berkembang menjadi 60,5 juta ponsel dengan 34 merek, termasuk 11 merek lokal pada tahun 2017. Kewajiban membangun pabrik di Indonesia dengan TKDN 30 persen, berhasil menghemat setidaknya 3 miliar dolar AS atau sekitar Rp 43 triliun.

Penerapan kebijakan TKDN yang sangat menguncang pasar karena merangsang produksi dalam negeri adalah industri telepon seluler (ponsel). Kebijakan yang diterapkan sejak awal masa pemerintahan mampu menekan impor sehingga menurunkan penggunaan dolar AS untuk belanja internasional.

Pabrik pendukung suku cadang pun sudah mulai berkembang dan sudah ada lebih dari 24 pabrik yang mampu membuat PCBA (printed circuit board assembly), casing, baterai, kabel data, adaptor dan pengeras suara. Ke depan pabrik lokal akan membuat layar serta mesin utama ponsel, karena skala ekonomi produksi tadi juga akan meningkat sejalan dengan makin besarnya pesanan dari industri.

Yang menjadi masalah saat ini pemerintah masih menerapkan bea masuk mahal untuk komponen-komponen penunjang yang masih diimpor. Akibatnya impor ponsel masih banyak yang akan terus ditekan lewat berbagai kebijakan yang menguntungkan industri.

Dari sejumlah merek yang beredar di pasar, mulai muncul merek-merek lokal yang unjuk gigi yang bahkan bisa mengalahkan merek global semisal LG, BlackBerry, Xiaomi, Vivo dan Luna. Walaupun, Samsung masih juga merajai pasar hingga lebih dari 30 persen, disusul Oppo.

Merek lokal yang mulai digemari antara lain Advan yang pangsa pasarnya sudah mencapai 11 persen, lalu Evercoss dan sembilan merek lokal lain yang mulai tumbuh. Bekerja sama dengan Telkomsel, dalam enam bulan pertama tahun 2018 ini Advan mampu memasarkan 4,7 juta unit ponsel dari berbagai seri dengan andalan pada seri G1 dan i5 serta i6, menyusul kemudian G2 dan G2-plus.

Ponsel-ponsel lokal ini bisa diterima masyarakat karena berharga lebih murah, di bawah 2 juta rupiah untuk ponsel dengan teknologi generasi keempat (4G- LTE), yang mulai menggerogoti pasar Samsung segmen menengah.

Walaupun ada beberapa ponsel dari luar yang tidak sanggup memenuhi TKDN ini. Tapi diharapkan dengan solusi yang ada, devisa negara semakin membaik.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *